Baca Juga: 7 Tanda Nomor WhatsApp Sedang Disadap, Kamu Ada Salah Satunya?
Ketika anak merasa didengarkan, mereka akan lebih nyaman bercerita jika menemukan sesuatu yang membuat mereka bingung atau tidak nyaman di dunia digital.
Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan akan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pengawasan tanpa komunikasi.
Memberikan Contoh Penggunaan Teknologi yang Sehat
Anak merupakan peniru yang sangat baik. Mereka belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari kebiasaan yang dilakukan orang tua setiap hari.
Sulit mengharapkan anak mengurangi penggunaan gawai apabila ibu sendiri lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar ponsel saat berkumpul bersama keluarga. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh anak.
Karena itu, memberikan teladan menjadi langkah yang sangat penting. Misalnya, membiasakan menyimpan ponsel ketika sedang makan bersama, membatasi penggunaan media sosial pada waktu tertentu, atau meluangkan waktu membaca buku bersama anak. Kebiasaan sederhana seperti ini akan menunjukkan bahwa teknologi memang penting, tetapi tidak boleh menguasai seluruh waktu dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: 15 Barang Wajib Anak Kos yang Bikin Hidup Lebih Praktis, Nyaman, dan Hemat
Keteladanan sering kali memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar larangan.
Mengajarkan Anak Berpikir Kritis di Dunia Digital
Internet menyediakan jutaan informasi yang dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut benar dan layak dipercaya. Berita palsu, konten yang menyesatkan, hingga berbagai bentuk penipuan digital kini semakin mudah ditemukan.
Di sinilah peran ibu menjadi sangat penting. Anak perlu diajarkan untuk tidak langsung mempercayai semua informasi yang mereka lihat di internet. Biasakan mereka bertanya dari mana sumber informasi berasal, apakah berasal dari media yang terpercaya, atau hanya unggahan seseorang di media sosial.















