Dari situ, ia mulai membantu usaha teman, tetangga, bahkan UMKM di sekitar rumah. Banyak yang tidak membayar, tapi Ferry justru menganggapnya sebagai portofolio berharga.
Titik Balik: Saat Semua Lelah Terbayar
Perlahan, beberapa bisnis mulai tertarik bekerja sama. Ferry menerima pekerjaan freelance sebagai admin sosial media dan pembuat strategi content marketing.
Namun puncak perubahan hidupnya datang ketika ia dipercaya mengelola kampanye digital untuk sebuah brand lokal yang sedang berkembang. Dalam tiga bulan, penjualan brand tersebut naik pesat. Pemilik usaha pun memperkenalkan nama Ferry ke jaringan bisnis lainnya.
Sejak itu, Ferry tidak pernah kekurangan klien.
Ia bahkan mendirikan agensi marketing digital kecil dengan dua orang tim yang awalnya hanya teman nongkrong. Mereka mengelola berbagai kampanye untuk UMKM hingga perusahaan menengah.
Sukses, Tapi Tetap Membumi
Meski kini hidupnya jauh lebih baik, Ferry tidak melupakan awal perjalanannya. Ia rutin membuka kelas gratis untuk pemuda-pemudi di kampungnya agar mereka punya keterampilan untuk bersaing di era digital.
Moto yang selalu ia ulang kepada peserta kelasnya adalah:
“Skill bisa dipelajari. Yang terpenting adalah keberanian untuk mulai.”















