Bisnis yang siap berkembang biasanya mulai memiliki identitas yang lebih jelas. Orang mengenal bisnis tersebut bukan hanya karena produknya, tetapi juga karena karakter atau keunikan yang ditawarkan.
Misalnya, sebuah kedai kopi dikenal karena konsepnya, sebuah toko pakaian dikenal karena gaya produknya atau sebuah jasa dikenal karena pelayanan yang cepat.
Identitas tersebut kemudian dapat menjadi pembeda ketika persaingan semakin ketat. Karena itu, jangan hanya bertanya, "Apa yang saya jual?". Cobalah bertanya "Mengapa orang harus membeli dari saya, bukan dari kompetitor?"
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar untuk membangun positioning bisnis.
5. Sudah Memiliki Pelanggan yang Berulang
Jumlah transaksi memang penting, tetapi frekuensi pelanggan kembali membeli juga tidak kalah penting. Jika sebagian pelanggan hanya membeli satu kali, pemilik bisnis perlu mengevaluasi pengalaman setelah pembelian.
Apakah produknya sesuai ekspektasi? Apakah pelayanan memuaskan? Apakah komunikasi dengan pelanggan sudah baik?
Program loyalitas, layanan purnajual dan komunikasi yang relevan dapat menjadi beberapa cara untuk menjaga hubungan dengan pelanggan.
Bisnis yang memiliki pelanggan loyal biasanya mempunyai fondasi yang lebih kuat dibandingkan bisnis yang hanya mengandalkan promosi untuk mendapatkan transaksi baru.
6. Mulai Berani Menggunakan Data
Bisnis yang berkembang sebaiknya tidak hanya mengandalkan intuisi. Data sederhana sebenarnya sudah bisa memberikan banyak informasi.
Contohnya, produk mana yang paling banyak terjual, jam transaksi tertinggi, sumber pelanggan, biaya promosi dan tingkat keuntungan setiap produk.













