LABVIRAL.COM - Tantrum adalah fase perkembangan yang umum terjadi pada anak, terutama usia 1–5 tahun. Namun, ketika anak berguling di lantai, berteriak, atau melempar barang di tempat umum, banyak orang tua merasa panik, malu, bahkan frustrasi.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang tua tergoda untuk membentak atau menghukum secara fisik. Padahal, ada Cara Efektif Mengatasi Tantrum Tanpa Kekerasan yang terbukti lebih sehat bagi perkembangan emosi anak.
Artikel ini membahas strategi berbasis pengalaman praktik parenting, pendekatan psikologi perkembangan, serta rekomendasi dari organisasi seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia dan American Academy of Pediatrics yang menekankan disiplin positif tanpa kekerasan.
Baca Juga: Rekomendasi Flat Shoes Nyaman untuk Kerja Seharian Tanpa Pegal
Mengapa Anak Mengalami Tantrum?
Sebelum memahami Cara Efektif Mengatasi Tantrum Tanpa Kekerasan, penting untuk mengetahui penyebabnya.
Tantrum bukan tanda anak nakal. Biasanya, tantrum terjadi karena:
- Anak belum mampu mengungkapkan emosi dengan kata-kata
- Kelelahan atau lapar
- Terlalu banyak stimulasi
- Keinginan yang tidak terpenuhi
- Mencari perhatian
Pada usia dini, bagian otak yang mengatur emosi dan kontrol diri belum berkembang sempurna. Jadi, reaksi emosional yang meledak-ledak adalah hal yang wajar.
Memahami hal ini membantu orang tua merespons dengan empati, bukan amarah.
Prinsip Dasar Mengatasi Tantrum Tanpa Kekerasan
Pendekatan tanpa kekerasan bukan berarti membiarkan perilaku negatif. Justru, metode ini mengajarkan anak cara mengelola emosi secara sehat.
Berikut prinsip dasarnya:
1. Tetap Tenang adalah Kunci
Anak belajar dari contoh. Jika orang tua membalas teriakan dengan teriakan, situasi akan semakin memburuk.
Tarik napas dalam-dalam. Turunkan nada suara. Ketika orang tua tenang, sistem saraf anak juga perlahan ikut stabil.
2. Validasi Perasaan Anak
Validasi bukan berarti menyetujui perilakunya.
Contoh:
“Mama tahu kamu marah karena tidak boleh beli mainan. Itu memang bikin kecewa.”
Kalimat ini membuat anak merasa dipahami, sehingga emosinya lebih cepat reda.
3. Tetapkan Batas dengan Tegas dan Lembut
Tanpa kekerasan bukan berarti tanpa aturan.
Contoh:
“Mama tidak bisa belikan mainan hari ini. Tapi kita bisa menabung untuk beli nanti.”
Batas yang konsisten membuat anak merasa aman.
Cara Efektif Mengatasi Tantrum Tanpa Kekerasan di Rumah
Berikut langkah praktis yang bisa langsung diterapkan:
1. Alihkan Perhatian (Distraction Technique)
Pada anak balita, mengalihkan fokus sangat efektif.
Misalnya:
- Mengajak melihat sesuatu yang menarik
- Mengubah aktivitas
- Mengajak bernyanyi
Teknik ini bekerja karena rentang perhatian anak masih pendek.
2. Gunakan Teknik Time-In, Bukan Time-Out
Jika time-out memisahkan anak saat emosi memuncak, time-in justru mendampingi anak hingga ia tenang.
Duduk di sampingnya. Peluk jika ia mau. Katakan bahwa Anda ada untuknya.
Pendekatan ini membangun rasa aman dan kelekatan emosional.
3. Ajarkan Regulasi Emosi Secara Bertahap
Setelah tantrum reda, ajarkan anak mengenali emosinya.
Contoh:
- “Tadi kamu marah ya?”
- “Kalau marah, kita bisa tarik napas seperti ini.”
Latihan pernapasan sederhana sangat membantu anak mengelola emosi di masa depan.
Strategi Pencegahan Tantrum
Selain menangani saat kejadian, pencegahan juga bagian penting dari Cara Efektif Mengatasi Tantrum Tanpa Kekerasan.
Baca Juga: PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso ke Depinas SOKSI Pimpinan Misbakhun
Kenali Pola Pemicu
Apakah anak sering tantrum saat lapar? Mengantuk? Terlalu lama bermain gadget?
Catat polanya. Dengan mengenali pemicu, Anda bisa mengantisipasi sebelum ledakan terjadi.
Berikan Pilihan Terbatas
Daripada berkata:
“Pakai baju ini sekarang!”
Coba:
“Kamu mau pakai baju merah atau biru?”
Memberi pilihan membuat anak merasa memiliki kontrol.
Bangun Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas memberi rasa aman. Anak yang tahu apa yang akan terjadi cenderung lebih stabil emosinya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Dalam praktiknya, beberapa reaksi justru memperparah tantrum:
- Membentak atau memukul
- Mempermalukan anak di depan umum
- Mengancam tanpa konsisten
- Menyerah demi menghentikan tangisan
Hukuman fisik mungkin menghentikan perilaku sesaat, tetapi berdampak jangka panjang pada kepercayaan diri dan kesehatan mental anak.














