Viral Sikap Tenang Kamari Sky di Pernikahan Ibunda, Apakah Kunci Utamanya Benar-benar Bebas Gula?

amanda
Senin 29 Juni 2026, 11:42 WIB
Viral Sikap Tenang Kamari Sky di Pernikahan Ibunda, Apakah Kunci Utamanya Benar-benar Bebas Gula? (Sumber : Instagram/jenniferhubner)

Viral Sikap Tenang Kamari Sky di Pernikahan Ibunda, Apakah Kunci Utamanya Benar-benar Bebas Gula? (Sumber : Instagram/jenniferhubner)

Labviral.com - Momen pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner beberapa waktu lalu tidak hanya menyita perhatian karena kemewahan dan romantismenya. Sosok kecil bernama Kamari Sky Wassink justru menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bagaimana tidak, balita yang masih dalam usia emas ini terlihat begitu tenang dan kooperatif di tengah acara yang panjang, ramai, dan penuh tamu undangan.

Sikap anteng Kamari yang berhasil merebut perhatian publik lantas memicu pertanyaan besar. Banyak warganet yang penasaran, apa rahasia di balik ketenangan seorang balita di acara sebesar dan seramai pernikahan artis? Jawaban yang muncul dan ramai diperbincangkan adalah pola makan Kamari yang minim atau tanpa gula tambahan.

Jennifer sendiri pernah mengungkap bahwa Kamari tidak diperkenalkan pada makanan manis sejak usia sangat dini. Ia lebih banyak mengonsumsi makanan alami. Dari sini, muncullah asumsi yang cepat menyebar: anak tenang karena tidak makan gula. Namun, benarkah sesederhana itu?

Baca Juga: 5 Trik Jitu Membuat Air Aquarium Tetap Jernih Lebih Lama, Ikan Sehat dan Aquarium Makin Indah

Mitos Sugar Rush yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa gula membuat anak langsung hiperaktif. Setelah makan kue, minum minuman manis, atau pulang dari pesta ulang tahun, anak terlihat lebih aktif dan sulit diam. Fenomena ini dikenal sebagai sugar rush.

Masalahnya, penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat bahwa konsumsi gula secara langsung menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Sejumlah studi yang membandingkan kelompok anak dengan konsumsi gula dan pemanis buatan menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang terlihat sering kali tidak berbeda secara signifikan.

Menariknya, dalam beberapa penelitian lain, orang tua yang percaya anaknya baru mengonsumsi gula cenderung menilai anak menjadi lebih aktif, bahkan ketika sebenarnya anak tersebut tidak mengonsumsi gula sama sekali. Artinya, ekspektasi orang dewasa kadang ikut membentuk persepsi.

Selain itu, makanan manis biasanya hadir bersamaan dengan suasana yang memang membuat anak lebih bersemangat: pesta, liburan, bermain bersama teman, atau lingkungan yang lebih bebas dari aturan harian.

Baca Juga: Dana Kembali, Senyum Hermawati Pulih: Terimakasih BNI

Membatasi Gula Tetap Ada Manfaatnya, Tapi Beda Konteks

Meski sugar rush masih diperdebatkan, bukan berarti pembatasan gula tidak berguna. Justru di sinilah sering terjadi salah paham. Membatasi gula tambahan tetap dianjurkan dalam pola makan anak karena berkaitan dengan kestabilan energi, kualitas tidur, kesehatan gigi, dan pembentukan pola makan jangka panjang.

Gula sederhana diserap tubuh dengan cepat. Setelah kadar gula darah naik, tubuh akan mengeluarkan insulin untuk menurunkannya kembali. Pada sebagian anak, perubahan energi yang terlalu cepat ini bisa diikuti rasa lelah mendadak, mudah lapar, perubahan suasana hati, atau menjadi lebih sensitif.

Fenomena ini lebih dekat dengan konsep sugar crash daripada sugar rush. Pada balita yang belum mampu mengungkapkan rasa tidak nyaman dengan kata-kata, kondisi tersebut kadang muncul dalam bentuk rewel, mudah frustrasi, atau tantrum.

Karena itu, pola makan yang lebih stabil, misalnya lebih banyak real food, cukup protein, buah, sayur, dan minim gula tambahan, tetap punya manfaat terhadap kenyamanan anak sehari-hari.

Baca Juga: 5 Cara Efektif Hilangkan Minyak di Panci, Sudah Kamu Coba? Ini Trik Mudah agar Panci Kembali Bersih dan Kinclong

Perilaku Anak Tidak Dibentuk oleh Satu Faktor Saja

Yang sering terlupakan dari diskusi ini adalah satu hal: perilaku anak tidak pernah dibentuk oleh satu faktor saja. Anak yang tampak tenang bukan otomatis karena tidak makan gula.

Dalam psikologi perkembangan, ada konsep temperamen bawaan. Ada anak yang memang sejak lahir lebih adaptif, mudah tenang, dan nyaman di lingkungan baru. Ada juga yang lebih sensitif terhadap suara, perubahan suasana, atau kehadiran orang asing.

Selain temperamen, rutinitas juga sangat berpengaruh. Balita sangat bergantung pada pola tidur, jadwal makan, dan rasa aman yang konsisten. Acara besar seperti pernikahan sering menjadi "jebakan" karena jam tidur berubah, anak kelelahan, atau terlalu banyak stimulasi.

Faktor Tak Terlihat: Rasa Aman dan Hubungan Emosional

Ada satu faktor yang sering tidak terlihat di kamera: hubungan emosional. Anak kecil membaca situasi lewat ekspresi orang dewasa. Ketika orang tua terlihat tenang, hadir, dan responsif, anak lebih mudah merasa aman. Sebaliknya, jika lingkungan terasa tegang atau terburu-buru, anak juga lebih mudah menunjukkan reaksi emosional.

Karena itu, membandingkan satu anak dengan anak lain sering kali tidak adil. Kamari mungkin punya kombinasi banyak hal: pola makan yang terjaga, rutinitas yang baik, temperamen yang sesuai, serta lingkungan pengasuhan yang membuatnya nyaman.

Baca Juga: 5 Self-Care Sederhana yang Bisa Dilakukan dalam 10 Menit untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Mengurangi Stres

Perlukah Anak Bebas Gula?

Jawaban singkatnya: tidak harus ekstrem. Yang lebih penting adalah mengurangi gula tambahan berlebihan dan membangun hubungan sehat dengan makanan sejak kecil. Anak tetap boleh menikmati rasa manis, tetapi tidak perlu menjadi pusat pola makannya.

Pada akhirnya, anak yang tenang bukan hasil dari satu larangan makanan. Yang membentuk mereka jauh lebih kompleks: tidur yang cukup, pola makan seimbang, rasa aman, rutinitas, dan orang dewasa yang hadir secara konsisten.

Mungkin itu pelajaran yang lebih menarik dari viralnya Kamari, bahwa pengasuhan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar urusan gula.***

Follow Berita LABVIRAL di Google News
Editor :
Halaman :
Berita Terkait Berita Terkini