BNI Catat Kinerja Solid Kuartal I 2026, Ditopang Fundamental Kinerja dan Transformasi Bisnis

Aryafdillahi HS
Rabu 29 April 2026, 09:37 WIB
BNI Catat Kinerja Solid Kuartal I 2026 (Sumber : dok. Bank BNI)

BNI Catat Kinerja Solid Kuartal I 2026 (Sumber : dok. Bank BNI)

Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1% YoY. Pada saat yang sama, pendapatan non-bunga tumbuh 12,6% terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel. Kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9%, Loan at Risk berada di level 8,6% atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1% sesuai dengan guidance.

Kombinasi pertumbuhan bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga serta kualitas aset yang semakin resilien menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I 2026.

Fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5% serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.

"Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” tutur Paolo.

Penguatan Permodalan Melalui Instrumen AT1

Paolo menjelaskan, dalam rangka mendukung penguatan struktur permodalan, perusahaan telah menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar USD700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026.

Penerbitan AT1 ini merupakan yang kedua setelah sebelumnya dilakukan pada 2021, sekaligus mencerminkan tingginya kepercayaan investor global yang tercermin dari permintaan yang mencapai lebih dari USD2,5 miliar atau oversubscribe hingga 3,6 kali dari nilai penerbitan.

Instrumen AT1 tersebut bersifat subordinasi, perpetual, serta non-cumulative, dan diterbitkan di pasar global berdasarkan Regulation S serta dicatatkan di Singapore Exchange (SGX), sebagai bagian dari strategi optimalisasi struktur permodalan perseroan.

Praktik Keberlanjutan

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menuturkan bahwa BNI terus mendorong penerapan strategi keberlanjutan secara menyeluruh, baik dalam aktivitas operasional maupun penyaluran pembiayaan.

Komitmen tersebut tercermin melalui penguatan inisiatif keuangan berkelanjutan, serta integrasi prinsip LST/ESG dan TJSL dalam kebijakan jangka panjang, guna memastikan keseimbangan antara kinerja bisnis dan kontribusi terhadap lingkungan serta masyarakat.

Follow Berita LABVIRAL di Google News
Halaman :
Berita Terkait Berita Terkini